Perjalanan panjang perjuangan bangsa ini adalah untuk meraih suatu cita-cita yang mulia, yaitu cita-cita kemerdekaan. Perlawanan bersenjata terjadi silih berganti di seluruh pelosok nusantara, dan tidak terhitung pejuang rakyat yang gugur dalam peristiwa itu.
Dalam sederetan panjang perjuangan tersebut, Perang Manggopoh mempunyai keistimewaan tersendiri. Ketika saat itu, para pencetus perlawanan terhadap kolonial Belanda dipimpin tokoh laki-laki, namun di Manggopoh dipimpin seorang tokoh perempuan, yang dikenal dengan Mandeh Siti Manggopoh.
Pada saat perjuangan bersenjata di pelosok nusantara berhasil dilumpuhkan Kolonial Belanda. Saat itulah masyarakat Manggopoh mulai menabuh genderang perang bersenjata. Ketika kultur dan budaya memosisikan perempuan sebagai kaum yang lemah, Siti Manggopoh tampil ke depan, membuktikan bahwa perempuan juga bisa berjuang sebagaimana kaum laki-laki. Itu lah keunikan perang Manggopoh, yang mempunyai nilai tersendiri di Republik ini.

Puncak penolakan atas penerapan pajak tersebut, pada 15 Juni 1908, tokoh masyarakat Manggopoh beserta seluruh lapisan masyarakat melakukan perlawanan bersenjata, sehingga dalam rangkaian peristiwa itu telah mengorbankan pejuang rakyat sebagai patriot bangsa, yang akan kita kenang sepanjang masa.
Perang Manggopoh bukanlah perlawanan lokal Anak Nagari Manggopoh semata, namun juga perlawanan rakyat Sumatera Barat, yang dimotori Tokoh Masyarakat Manggopoh. Untuk itu, para Tokoh Pejuang Perang Manggopoh sesungguhnya adalah Pahlawan nasional.
Perang Manggopoh sejatinya adalah suatu perjuangan yang tumbuh, dan dijiwai semangat dan cita-cita yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Republik ini. Kita jangan sampai lupa, bahwa negara ini berdiri di atas darah, dan jiwa para syuhada, pejuang, dan pahlawan, di antaranya adalah Pejuang Perang Manggopoh, yang gugur sebagai patriot bangsa.

Rentang Waktu telah membuat kita semakin jauh dari peristiwa Perang Manggopoh, masa telah berganti. Kini kita hidup dalam alam kemerdekaan, sebagai buah dari pengorbanan para pejuang kita dulu. Meskipun waktu berjalan semakin jauh, dan ini terus dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi, salah satunya adalah dengan memperingati jasa pahlawan setiap tahunnya.
Seperti halnya yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Agam, Kamis (15/6) dini hari bertepatan pukul 00.00 WIB, menggelar renungan suci di Taman Makam Pahlawan (TMP) Siti Manggopoh, dalam rangka memperingati perang Manggopoh ke-109 tahun 2017, yang bertindak selaku Inspektur Upacara (Irup) adalah Kapolres Agam, AKBP Ferry Suwandi, S.I.K,
Bahkan paginya dilanjutkan upacara di lokasi yang sama, dan bertindak selaku (Irup) adalah Staf Ahli Gubernur Sumbar Bidang Pemerintahan, Jefrinal Arifin, dan dihadiri Sekdakab Agam Martias Wanto, Asisten I Setdakab Agam Yosefriawan, Unsur Forkopimda, dan tokoh masyarakat, serta pelajar.
Usai upacara, dilanjutkan kegiatan tabur bunga yang dilakukan Irup, serta unsur Forkopimda, dan tokoh masyarakat, sebagai simbol pengormatan terhadap para pahlawan yang gugur demi kemerdekaan, dan keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. Di mana kegiatan ini rutin digelar setiap tahunnya, seperti peringatan Perang Manggopoh dan HUT RI.

Peristiwa Perang Manggopoh memberikan pelajaran bagi kita semua, sebagaimana kebersamaan diwujudkan tanpa memandang latar belakang dan perbedaan. Peristiwa ini merupakan contoh yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk menjalin kebersamaan, dan kesatuan segenap lapisan masyarakat untuk membangun daerah kita ini.
Semangat kepahlawanan para Pejuang Perang Manggopoh tetap dipelihara, dan dilestarikan, serta diwujudkan dalam bentuk melaksanakan tanggung jawab bersama, untuk mendukung semua program pembangunan di segala sektor, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat yang sejahtera adalah cita-cita para pejuang dulu. Meskipun sampai saat ini sudah banyak yang diperbuat pemerintah, seperti pembangunan yang terus berjalan, namun jalan masih panjang untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Diperlukan kerja keras kita semua untuk menuju hal tersebut.
Perang Manggopoh bukan hanya sekedar mewariskan nilai kepada kita, namun lebih dari itu. Sebagai anak bangsa, kita menyadari belum dapat memberikan penghargaan yang layak atas semua pengorbanan para Pejuang Manggopoh, hanya sepenggal doalah yang dapat kita kirimkan, sebagai bentuk ucapan terima kasih dari lubuk hati yang dalam.
Setiap pahlawan tidak pernah meminta untuk dihargai, tidak pernah minta untuk dikenang, tetapi adalah kewajiban kita untuk menghargai dan mengenangnya setiap waktu. (Tam/AMC)