AMC / Kamis 31 Maret 2011 -Jorong Ujung Labung di Nagari Tiku V Jorong Kecamatan Tanjung Mutiara adalah salah satu dari empat daerah dampingan kerja Program PREPARE Sumbar kerjasama JEMARI Sakato, Mercycorps atas pendanaan dari DIPECHO di Kabupaten Agam. Bila di lihat dari topografi, Ujung labung merupakan satu-satunya daerah dampingan yang memiliki ancaman bencana yang paling menakutkan saat ini, Tsunami. Hasil pengkajian ancaman, kerentanan dan kapasitas yang dilakukan oleh Kelompok Siaga Bencana “Sini Bisa Sana Bisa”, masyarakat belum semua mengetahui dimana rute dan tempat evakuasi mereka ketika monster tsunami tersebut datang, kebingungan kemana akan menyelamatkan diri masih selalu menggayut di pikiran masyarakat. Ketika mereka berjalan-jalan ke kota Padang, di seputaran pantai banyak sekali di lihat peta atau petunjuk menyelamatkan diri ketika terjadi tsunami. Tapi di Ujung labung yang di huni sekitar 1.361 jiwa ini tidak ada tanda-tanda penyelamatan yang dilakukan?. Pendidikan dan pengetahuan tentang langkah-langkah penanganan bencana jarang mereka dapatkan.
Workshop perumusan peta evakuasi, peran dan tanggung jawab KSB dalam penanggulangan bencana yang dilakukan di pantai Ujung Labung 17-18 Maret dengan menghadirkan semua KSB yang ada di Kabupaten Agam, terungkap keprihatinan yang mendalam dari semua peserta ketika anggota KSB Ujung Labung menyampaikan hasil peta evakuasi yang mereka buat.
Menyikapi hal tersebut, pendamping dari JEMARI Sakato, Ira Ariesta, Wali Jorong dan anggota Kelompok Siaga Bencana mencoba mencari solusi berdialog dengan stakeholder yang ada di daerah mereka. Camat Tanjung Mutiara, Dandi Pribadi, secara khusus mengundang anggota KSB untuk bersama-sama mencoba menelusuri kembali rute dari Ujung Labung ke Bukit Batu Apung di jorong Durian kapeh. Menurut data yang pernah beliau lakukan, daerah tersebut memiliki ketinggian 16 m dari permukaan laut, jika hal ini bisa di telusuri dan di anggap aman untuk evakuasi maka Bukit Batu Apung bisa di jadikan salah satu solusi evakuasi.
Hasil penelusuran tim, yang beranggotakan Kelompok Siaga Bencana, tim JEMARI Sakato dan Mercycorps serta PMI Kab Agam, jarak tempuh jika dilakukan dengan jalan kaki dari Ujung labung ke tempat evakuasi Bukit Batu apung sekitar 70 menit dengan jarak sekitar 3,5 km. Saat ini, rute tersebut masih terkendala dengan jembatan yang membentang sungai sepanjang 35 meter hanya bisa di dilewati dengan jalan kaki, kalau pun bisa dengan sepeda motor membutuhkan keahlian khusus, karena jembatan terbuat dari balok kayu dan tidak ada pengaman di kiri kanannya. Bahu jalan masih tanah bergelombang dan berada di dalam kebun sawit, sewaktu penelusuran beberapa ruas jalan di genangi air.
Menurut rencana, anggota KSB akan melakukan dialog dengan pihak PT Mutiara Agam untuk mencari solusi terbaik yang akan mengikut sertakan tokoh-tokoh masyarakat Ujung Labung.
Semoga Kegigihan KSB “Sini Bisa Sana Bisa” Ujung Labung bisa mendatangkan hasil dan mengurangi dampak dari resiko bencana yang akan datang.wdp
Tiku, Agam, SO--, Jorong Ujung Labung di Nagari Tiku V Jorong Kecamatan Tanjung Mutiara adalah salah satu dari empat daerah dampingan kerja Program PREPARE Sumbar kerjasama JEMARI Sakato, Mercycorps atas pendanaan dari DIPECHO di Kabupaten Agam. Bila di lihat dari topografi, Ujung labung merupakan satu-satunya daerah dampingan yang memiliki ancaman bencana yang paling menakutkan saat ini, Tsunami. Hasil pengkajian ancaman, kerentanan dan kapasitas yang dilakukan oleh Kelompok Siaga Bencana “Sini Bisa Sana Bisa”, masyarakat belum semua mengetahui dimana rute dan tempat evakuasi mereka ketika monster tsunami tersebut datang, kebingungan kemana akan menyelamatkan diri masih selalu menggayut di pikiran masyarakat. Ketika mereka berjalan-jalan ke kota Padang, di seputaran pantai banyak sekali di lihat peta atau petunjuk menyelamatkan diri ketika terjadi tsunami. Tapi di Ujung labung yang di huni sekitar 1.361 jiwa ini tidak ada tanda-tanda penyelamatan yang dilakukan?. Pendidikan dan pengetahuan tentang langkah-langkah penanganan bencana jarang mereka dapatkan.
Workshop perumusan peta evakuasi, peran dan tanggung jawab KSB dalam penanggulangan bencana yang dilakukan di pantai Ujung Labung 17-18 Maret dengan menghadirkan semua KSB yang ada di Kabupaten Agam, terungkap keprihatinan yang mendalam dari semua peserta ketika anggota KSB Ujung Labung menyampaikan hasil peta evakuasi yang mereka buat.
Menyikapi hal tersebut, pendamping dari JEMARI Sakato, Ira Ariesta, Wali Jorong dan anggota Kelompok Siaga Bencana mencoba mencari solusi berdialog dengan stakeholder yang ada di daerah mereka. Camat Tanjung Mutiara, Dandi Pribadi, secara khusus mengundang anggota KSB untuk bersama-sama mencoba menelusuri kembali rute dari Ujung Labung ke Bukit Batu Apung di jorong Durian kapeh. Menurut data yang pernah beliau lakukan, daerah tersebut memiliki ketinggian 16 m dari permukaan laut, jika hal ini bisa di telusuri dan di anggap aman untuk evakuasi maka Bukit Batu Apung bisa di jadikan salah satu solusi evakuasi.
Hasil penelusuran tim, yang beranggotakan Kelompok Siaga Bencana, tim JEMARI Sakato dan Mercycorps serta PMI Kab Agam, jarak tempuh jika dilakukan dengan jalan kaki dari Ujung labung ke tempat evakuasi Bukit Batu apung sekitar 70 menit dengan jarak sekitar 3,5 km. Saat ini, rute tersebut masih terkendala dengan jembatan yang membentang sungai sepanjang 35 meter hanya bisa di dilewati dengan jalan kaki, kalau pun bisa dengan sepeda motor membutuhkan keahlian khusus, karena jembatan terbuat dari balok kayu dan tidak ada pengaman di kiri kanannya. Bahu jalan masih tanah bergelombang dan berada di dalam kebun sawit, sewaktu penelusuran beberapa ruas jalan di genangi air.
Menurut rencana, anggota KSB akan melakukan dialog dengan pihak PT Mutiara Agam untuk mencari solusi terbaik yang akan mengikut sertakan tokoh-tokoh masyarakat Ujung Labung.
Semoga Kegigihan KSB “Sini Bisa Sana Bisa” Ujung Labung bisa mendatangkan hasil dan mengurangi dampak dari resiko bencana yang akan datang.(wdp/AMC)
Beranda
