Bupati Agam Indra Catri mengatakan, perang Manggopoh merupakan perlawanan rakyat Manggopoh dan Lubuk Basung, terhadap kebijakan ekonomi Belanda pada saat itu, dengan memungut pajak dengan memberatkan rakyat yang dikenal “belasting”.
Hal itu disampaikan Bupati Agam Indra Catri saat sambutan dalam Upacara Peringatan Perang Manggopoh ke-106 (1908–2014) di halaman Kantor Camat Lubuk Basung, Minggu (15/6).
Tampil sebagai Perwira Upacara Camat Lubuk Basung Hilton, SH, pembaca teks pembukaan UUD 1945 Rismah dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, pembaca sejarah ringkas perang Manggopoh dibacakan Winda Pratiwi selaku anak Nagari Manggopoh, pengerek bendera SMAN 3 Lubuk Basung.
Bupati menambahkan, perang Manggopoh yang terjadi (15/6/1908) merupakan peristiwa heroik perlawanan rakyat atas kesewenanggan penjajah kolonial Belanda di bumi nusantara. Sejarah mencatat para pejuang di Manggopoh berperang dengan gagah berani melakukan penyerangan terhadap Belanda yang berhasil menewaskan tentara Belanda. Perempuan luar biasa itu adalah Sitti yang dikemudian dikenal dengan panggilan Sitti Manggopoh..
Mengingat Sitti Manggopoh adalah seorang wanita yang memimpin perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda, maka perjuangan rakyat Manggopoh memiliki nilai lebih, apalagi Sitti Manggopoh sangat berani dan sangat heroik.
Seiring dengan perlawanan rakyat Manggopoh, di Kamang juga terjadi perlawanan rakyat terhadap Belanda yang dikenal dengan peristiwa Perang Kamang, kedua peristiwa ini menjadi bukti sejarah perlawanan dan kebangkitan Rakyat Agam terhadap segala bentuk penjajahan di tanah Rang Agam.
Peringatan Perang Manggopoh ke-106 tahun ini dapat dijadikan momentum untuk menggali nilai-nilai lubur yang dimiliki oleh para pejuang dan pahlawan untuk diwujudkan dalam kehidupan dan aktivitas sehari-hari sesuai dengan posisi serta profesi masing-masing.
Berkenaan dengan Peringatan Perang Manggopoh ke-106, atas nama Pemerintah Kabupaten menghimbau dan mengajak semua, hendaknya pelaksanaan peringatan ini janganlah hanya bersifat seremonial belaka, tapi lebih penting sekarang sebagai generasi penerus dapat mewarisi nilai-nilai luhur, sehingga dapat diterapkan dalam membangun Nagari Manggopoh menuju kemakmuran, sejahtera dan maju.
Bupati Agam berharap dengan peringatan peristiwa ini semoga makin memperkuat jati diri sebagai pejuang yang berani menegakkan kebenaran, berani memerangi kemungkuran dan berani untuk berprestasi dengan landasan iman yang kuat dengan bersama membangun nagari ini memakai Basamo Makonyo Manjadi.
Diakhir acara Bupati Agam menyerah 106 bibit untuk menyemarakkan Agam Menyemai, sehingga menanam menjadi salah satu momentum mengisi hasil dari Perang Manggopoh.
Hadir saat upacara, Muspida, Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) se-Kabupaten Agam, TNI, Polri, pejuang, tokoh masyarakat, OKP dan Ormas. (andrew/amc)
Beranda



